Senin, 07 Desember 2015

KURSUS TANI UNTUK MENSUKSESKAN UPSUS PAJALE


Metode penyuluhan pertanian  diartikan sebagai : cara atau teknik penyampaian materi (pesan) penyuluhan oleh para penyuluh kepada para petani beserta keluarganya baik secara langsung maupun tidak langsung, agar mereka tahu,mau dan mampu menerapkan inovasi ( teknologi baru). Dalam kegiatan penyuluhan pertanian di Desa penyuluh Pertanian di tuntut memahami metode penyuluhan  yang harus di pakai sesuai dengan sasarannya, salah satunya adalah Kursus Tani.

Kursus tani merupakan proses belajar mengajar yang khusus diperuntukan bagi petani dan keluarganya yang diselenggarakan secara sistematis, teratur dan dalam jangka waktu tertentu, dengan tujuan :

  1. Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kecakapan petani dalam memecahkan masalah yang dijumpai dalam usahataninya
  2. Meningakatkan pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan dalam menerapkan teknologi yang lebih menguntungkan .
  3. Mmenumbuhkan calon kontaktani yang bersedia dan mampu menyebarkan teknologi pertanian yang lebih menguntungkan 

Senin, 25 Mei 2015

JENIS-JENIS TANAH

Jenis Jenis Tanah
Ilustrasi
Ada beranekaragam jenis tanah menutupi lapisan bumi Dari proses pembentukannya, tanah merupakan akumulasi unsur-unsur alam yang bebas dan menempati sebagian besar lapisan atas permukaan bumi. Tanah menjadi tempat tumbuh tanaman dan memiliki sifat-sifat tertentu akibat pengaruh iklim dan makhluk hidup yang bekerja pada batuan induk dalam keadaan dan jangka waktu tertentu. Pemanfaatan tanah tersebut sangat bergantung pada klasifikasi jenis tanahnya. Perbedaan jenis-jenis tanah disebabkan oleh perbedaan batuan induk, intensitas penyinaran matahari, curah hujan, relief, dan tumbuhan penutup tanah.

Jenis-jenis tahan tersebut antara lain sebagai berikut:
  • Tanah Vulkanik: Tanah vulkanik adalah jenis tanah yang dihasilkan dan pelapukan batuan bekas letusan gunung api. Tanah vulkanik sangat kaya dengan mineral yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Oleh sebab itu, tanah vulkanik sangat subur. Pada umumnya masyarakat dapat memanfaatkannya untuk bercocok tanam.
  • Tanah Aluvial: Tanah aluvial adalah tanah yang terbentuk akibat proses pengendapan kerikil, pasir, dan lumpur yang terangkut oleh angin dan air dan sungai menuju pantai. Tanah aluvial dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bangunan.
  • Tanah laterit: Tanah laterit adalah jenis tanah yang berwarna kecokelatan sehingga tampak berwarna pucat. Jenis tanah ini kurang baik karena sangat sedikit mengandung hara dan mengandung besi. Tetapi, jika kandungan besinya sangat tinggi dapat ditambang untuk keperluan industri.
  • Tanah Litosol: Tanah litosol adalah jenis tanah yang berasal dari batuan beku dan sedimen yang keras, dan bersifat sensitif terhadap erosi. Tanah ini bermanfaat untuk menanam tanaman yang berkayu keras.
  • Tanah andosol: Tanah andosol adalah jenis tanah yang terdiri atas abu vulkanik yang memiliki kandungan organik tinggi dan sensitif terhadap pengaruh erosi. Tanah ini cocok untuk tanaman kopi, teh, kina, pinus, dan sayuran.
  • Tanah Regosol: Tanah regosol adalah jenis tanah yang terdapat di daerah iklim beragam dengan permukaan yang bergelombang. Tanah regosol terbentuk dari abu vulkanik dan pasir pantai.Tanah regosol dapat dimanfaatkan untuk tanaman tembakau, kelapa, sayuran, dan tebu.
  • Tanah Grumosol: Tanah grumusol adalah jenis tanah yang terdapat di daerah yang memiliki rata-rata curah hujan tahunan antara 1.000 mm sampai dengan 2.000 mm.Tanah grumusol dapat dimanfaatkan untuk tanaman padi, jagung, kapas, dan kedelai.
sumber : http://www.pengertianahli.com
Semoga bermanfaat, Salam THL-TBPP...!!!

Rabu, 20 Mei 2015

KEGIATAN PENDAMPINGAN PENYULUHAN

Hai sobat semua, apa kabar ??? moga tetap semangat dalam menjalani rutinitas sebagai tenaga penyuluh khususnya bagi teman-teman THL-TBPP se Indonesia.

Oh ya kali ini saya akan sedikit berbagi sedikit foto kegiatan saya selama jadi THL-TBPP sejak tahun 2009-2015, walau jauh dari sempurna, dan saya yakin banyak teman-teman THL-TBPP se indonesia punya kegiatan lebih banyak dari pada saya dan lebih menarik.

Hal ini saya lakukan sebagai bukti dari sedikit upaya kita untuk mendampingi dan menjadi mitra atau sahabat petani. Silahkan klik DISINI untuk melihat. salam THL-TBPP.

Sabtu, 02 Mei 2015

UJI SEDERHANA PADI SALIBU


“ PENGARUH TINGGI PEMOTONGAN TUNGGUL JERAMI PADA PADI SISTYM SALIBU TERHADAP PRODUKTIVITAS INPARI 30 "

Rancangan Oleh : Mahli, SP
Pelaksanaan oleh : BKP3 Kec. Batukliang


I.  Tujuan dan Sasaran

I.a. Tujuan
a. Mengetahui pengaruh pemotongan tunggul jerami terhadap provitas inpari 30
b. Menjamin penerapan teknologi Padi Salibu secara lengkap dan benar.
c. Mempercepat adopsi teknologi dengan pendekatan PTT secara berkelanjutan
d. Menyediakan materi penyuluhan bagi petugas dan pelaku utama.

I. b.  Sasaran
Kelompok Tani Mesang Pedakiq Desa Mantang Kecamatan Batukliang Kab. Lombok Tengah.

II. Waktu Kegiatan
Waktu Kegiatan pelaksanaan Padi Systim Salibu ini adalah Musim Tanam ke-II tahun 2015, yaitu tepatnya pada bulan April 2015 – Juni 2015.

III. Padi Induk
Padi induk atau yang akan di salibu adalah Padi jenis Inpari 30 berlabel Putih, dengan jarak tanam Legowo  4 : 3 : 1.

IV. Perlakuan
Dalam masing-masing satu baris Legowo dalam satu petak sawah di potong setinggi perlakuan :

1.       PS. I                      = Pemotongan  1 Cm
2.       PS. II                     = Pemotongan  2 Cm
3.       PS. III                   = Pemotongan  3 Cm (Ulangan I, II, dan III)
4.       PS. IV                   = Pemotongan  4 Cm
5.       PS. V                    = Pemotongan  5 Cm
6.       PS. VI                   = Pemotongan  6 Cm
7.       PS. VII                  = Pemotongan  7 Cm
8.       PS. VIII                 = Pemotongan  8 Cm
9.       PS. IX                   = Pemotongan  9 Cm

V. Pengambilan Data
Pada setiap perlakuan di ambil tiga sampel rumpun tanaman untuk di hitung anakan produktifnya dan selanjutnya pada saat panen di ambil masing-masing 100 rumpun tanaman untuk di timbang produktivitasnya.

 VI. Pemupukan
Pemberian pupuk mengikuti Kalender Tanam (KATAM) Tahun 2015 untuk Kec. Batukliang sebelum di tambah 25 % /Ha  yaitu :
1.       UREA             = 200 Kg/ha
2.       NPK               = 200 Kg/Ha
Dengan waktu Pemberian umur 15 HSP dan 35 HSP
*) HSP = Hari Setelah Pemotongan.

VII. Pengairan
Pengairan dilakukan dengan penggenangan mulai dari setelah panen sampai umur 45 HSP, setelah itu dengan cara berselang atau intermitten

VIII. Parameter Pengamatan
Sebagai parameter pada perlakuan ini akan di amati :
a. Jumlah Anakan Produktif
b. Produktivitas per 100 rumpun

IX.  Teknis Budidaya (on proses)
X.  Jadwal Kegiatan (on proses)
XI.  Foto-Foto Kegiatan (on proses)
XII. Tabulasi Data

Kegiatan dan perkembangan salibu bisa di akses di : www.bpp-batukliang.blogspot.com

PROGRAM GP-PTT PADI MT. II 2015


Upaya Khusus (UPSUS) Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GP-PTT) padi adalah salah satu cara yang di tempuh oleh Kementrian Pertanian guna memenuhi target kinerja Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dalam swasembada Padi, Jagung, dan Kedelai (PAJK).





Untuk itu didalam kegiatan ini ikut serta mengawal adalah TNI, dan di tingkat desa kita kenal adalah BABINSA. 
Babinsa bersama PPL  di tugaskan untuk mengawal dan mendampingi Program GP-PTT ini agar berhasil dan sukses, untuk itulah sebagai langkah awal kami di Desa Peresak telah mengadakan Sosialisasi mengenai GP-PTT ini serta teknologi budidaya yang di anjurkan, dengan harapan masyarakan tau dan faham cara pelaksanaan program GP-PTT ini.
Pada tahap selanjutnya akan saya posting kegiatan GP-PTT di tingkat lapang.